Biaya Tenaga Kerja Naik? Ini Strategi yang Bisa Dilakukan HR
Cara menghadapi kenaikan upah minimum menjadi pembahasan penting bagi HR dan manajemen setiap kali pemerintah menetapkan UMP maupun UMK baru. Bagi pekerja, kenaikan upah dapat membantu menjaga daya beli. Sementara bagi perusahaan, perubahan tersebut berarti biaya tenaga kerja perlu dihitung ulang, terutama ketika jumlah karyawan cukup besar atau sebagian besar payroll berada dekat dengan batas upah minimum. Namun, kenaikan upah minimum sebaiknya tidak langsung dipandang sebagai alasan untuk membekukan rekrutmen, mengurangi jumlah karyawan, atau memangkas benefit. Respons seperti itu memang dapat menekan biaya dalam jangka pendek, tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan produktivitas dan struktur pengupahan perusahaan. Pendekatan yang lebih sehat adalah melihat kembali keseluruhan sistem: berapa dampaknya terhadap payroll, bagaimana posisi gaji antar jabatan, apakah produktivitas sudah sejalan dengan biaya tenaga kerja, serta kompetensi apa yang sebenarnya dibutuhkan bisnis. Mengapa Kenaikan Upah Minimum Perlu Dipersiapkan? Perubahan upah minimum mempunyai efek yang lebih luas daripada sekadar menaikkan gaji karyawan yang sebelumnya berada di bawah angka baru. Perusahaan juga dapat menghadapi salary compression, yaitu kondisi ketika selisih penghasilan antara karyawan baru dan karyawan yang sudah lebih lama bekerja menjadi terlalu kecil. Contohnya sederhana. Misalkan gaji seorang operator baru sebelumnya Rp4,7 juta, sedangkan operator senior dengan masa kerja empat tahun menerima Rp5 juta. Jika upah minimum baru membuat gaji operator baru harus menjadi Rp5 juta, keduanya akhirnya menerima upah yang hampir sama. Secara hukum dan administratif, perusahaan mungkin telah menyesuaikan batas minimum. Namun, dari perspektif internal equity, muncul pertanyaan baru: Mengapa karyawan dengan masa kerja, pengalaman, dan kompetensi lebih tinggi mendapatkan penghasilan yang hampir sama? Karena itu, kenaikan upah minimum tidak seharusnya ditangani hanya dengan mengganti angka pada payroll. Memahami Aturan Upah Minimum Terlebih Dahulu Pada saat artikel ini ditulis, salah satu regulasi utama pengupahan adalah PP Nomor 49 Tahun 2025, yang merupakan perubahan kedua atas PP Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan. Regulasi tersebut berlaku sejak 17 Desember 2025 dan menjadi dasar kebijakan pengupahan, termasuk formula penyesuaian upah minimum. Formula penyesuaiannya menggunakan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang dikalikan dengan indeks tertentu atau α. PP 49/2025 menetapkan α dalam rentang 0,50 sampai 0,90, dengan pertimbangan keseimbangan kepentingan pekerja dan perusahaan serta perbandingan upah minimum dengan kebutuhan hidup layak. Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan HR. Ketentuan pengupahan menyebutkan bahwa upah minimum berlaku bagi pekerja dengan masa kerja kurang dari satu tahun. Untuk pekerja dengan masa kerja satu tahun atau lebih, pengupahannya berpedoman pada struktur dan skala upah perusahaan. Artinya, pengelolaan compensation tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan: “Apakah seluruh karyawan sudah menerima gaji di atas UMK?” Pertanyaan berikutnya adalah: “Apakah perbedaan upah di dalam perusahaan sudah mencerminkan jabatan, tanggung jawab, masa kerja, kompetensi, dan kontribusi?” Cara Menghadapi Kenaikan Upah Minimum di Perusahaan Tidak ada satu strategi yang cocok untuk seluruh perusahaan. Namun, beberapa langkah berikut dapat menjadi dasar sebelum manajemen mengambil keputusan. 1. Hitung Dampaknya terhadap Total Payroll Mulailah dari data. HR bersama finance dapat memetakan berapa karyawan yang saat ini: Jangan hanya menghitung selisih gaji pokok. Perubahan pengupahan dapat berkaitan dengan berbagai komponen biaya tenaga kerja, sehingga perusahaan perlu membuat proyeksi payroll secara keseluruhan. Sebagai contoh sederhana: Jika terdapat 200 karyawan dan kenaikan rata-rata biaya tenaga kerja sebesar Rp300.000 per orang per bulan, tambahan biaya langsungnya dapat mencapai: Rp300.000 × 200 × 12 = Rp720 juta per tahun. Angka tersebut baru memberikan gambaran awal. Selanjutnya, finance dan HR perlu melihat dampaknya terhadap margin bisnis serta komponen biaya lainnya. 2. Jangan Menaikkan Gaji dengan Persentase yang Sama Kesalahan yang sering terjadi adalah menaikkan seluruh gaji dengan persentase yang sama agar prosesnya lebih mudah. Cara ini memang sederhana, tetapi belum tentu menghasilkan struktur upah yang sehat. Misalnya, kenaikan upah minimum membuat posisi entry level membutuhkan penyesuaian besar. Posisi supervisor yang sudah jauh di atas minimum belum tentu membutuhkan persentase kenaikan yang sama. Sebaliknya, perusahaan perlu melihat jarak antargrade. Pertimbangkan faktor seperti: Pendekatan tersebut membantu menjaga internal equity sekaligus mengendalikan biaya. 3. Review Struktur dan Skala Upah Kenaikan upah minimum merupakan momentum yang baik untuk memeriksa kembali struktur dan skala upah. PP Nomor 49 Tahun 2025 menegaskan bahwa pengusaha wajib menyusun dan menerapkan struktur dan skala upah dengan memperhatikan kemampuan perusahaan dan produktivitas, serta golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan, dan kompetensi. Kementerian Ketenagakerjaan juga pernah melaporkan bahwa dari sekitar 2,6 juta perusahaan yang terdaftar, baru 68.605 perusahaan yang telah menerapkan struktur dan skala upah berdasarkan data yang disampaikan pada akhir 2024. Angka tersebut memperlihatkan bahwa penerapan sistem pengupahan yang terstruktur masih menjadi pekerjaan besar bagi banyak perusahaan. Struktur upah membantu perusahaan menjawab pertanyaan seperti: Tanpa struktur tersebut, kenaikan UMK dari tahun ke tahun dapat membuat distribusi gaji semakin tidak beraturan. 4. Cek Risiko Salary Compression Setelah penyesuaian minimum dilakukan, bandingkan gaji karyawan baru dengan karyawan lama. Perhatikan terutama posisi yang berada satu atau dua level di atas entry level. Misalnya: Posisi Sebelum Penyesuaian Setelah Penyesuaian Operator Baru Rp4.700.000 Rp5.000.000 Operator Senior Rp5.050.000 Rp5.050.000 Team Leader Rp5.500.000 Rp5.500.000 Setelah adjustment, selisih operator baru dengan operator senior hanya Rp50.000. Situasi seperti ini dapat menimbulkan persepsi ketidakadilan. Perusahaan tidak selalu harus menaikkan seluruh gaji secara besar-besaran. Namun, perlu ada analisis mengenai pay gap yang masih masuk akal sesuai grade dan kontribusi masing-masing posisi. 5. Hubungkan Kenaikan Biaya dengan Produktivitas Upah dan produktivitas sebaiknya dibahas dalam satu kerangka. Regulasi pengupahan saat ini juga memasukkan produktivitas sebagai salah satu aspek dalam struktur dan skala upah. Perusahaan dapat mulai melihat beberapa indikator seperti: Tujuannya bukan membuat karyawan “bekerja lebih keras” hanya karena upah meningkat. Yang perlu dicari justru proses kerja yang kurang efisien. Contohnya, tim mungkin menghabiskan waktu untuk pekerjaan administratif yang sebenarnya dapat diotomatisasi. Ada juga kemungkinan dua divisi melakukan pekerjaan serupa atau proses approval melewati terlalu banyak tahapan. Jika proses tersebut diperbaiki, perusahaan dapat meningkatkan output tanpa selalu menambah jumlah tenaga kerja. 6. Evaluasi Workforce Planning Sebelum Menambah Orang Ketika bisnis tumbuh, respons yang paling cepat sering kali adalah membuka lowongan baru. Padahal, kenaikan biaya tenaga kerja membuat workforce planning semakin penting. Sebelum menambah headcount, tanyakan: Pendekatan ini bukan berarti menerapkan hiring freeze. Tujuannya adalah membuat setiap penambahan tenaga kerja mempunyai alasan bisnis yang jelas. 7. Jangan Langsung … Read more
