Mengapa Pertolongan Psikologis Pertama (PFA) Menjadi Pilar Utama Penanganan Bencana
Terjadinya suatu peristiwa tak terduga, seperti bencana alam, memiliki kekuatan untuk mengguncang fondasi kehidupan manusia hingga ke akar-akarnya. Reruntuhan yang ditimbulkan oleh bencana tidak hanya berupa fisik rumah, jembatan, dan infrastruktur tetapi juga reruntuhan yang tak terlihat: kesehatan mental dan stabilitas psikologis masyarakat yang terdampak. Indonesia, sebagai negara yang berada di ‘Cincin Api’ Pasifik, sering kali dihadapkan pada kenyataan pahit ini. Ambil contoh tragedi yang baru-baru ini melanda. Banjir bandang dan longsor kembali menghantam tiga provinsi besar di Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana ini, sebagaimana analisis yang dihimpun oleh lembaga Celios (30 November 2025) dari berbagai media nasional, telah menciptakan krisis multidimensi yang luar biasa. Angka-angka kerusakan yang terjadi menyiratkan skala krisis yang terjadi. Diperkirakan: Lebih dari 1.000 jiwa terdampak dan harus mengungsi. 61.518 rumah terendam air, kehilangan tempat berlindung. Kerusakan parah pada infrastruktur, dengan 18 jembatan ambruk dan 14.600 meter jalan raya rusak parah. Sektor ekonomi dan pangan terguncang, terbukti dari 1.495 hektar sawah rusak. Di balik statistik fisik ini, terdapat kerugian yang jauh lebih mendalam: ribuan korban jiwa dilaporkan hilang, dan sebagian besar belum ditemukan. Kerugian ini bukan sekadar krisis ekologis dan ekonomi, tetapi juga krisis kemanusiaan yang mengancam serius kesehatan mental masyarakat. Dampak psikologis yang dialami para penyintas terbukti tidak kalah berat dibandingkan dengan kerusakan fisik. Banyak warga kehilangan orang yang dicintai, harta benda yang telah dikumpulkan seumur hidup, lahan, ternak, serta sumber penghasilan utama keluarga. Semua kehilangan ini berkumpul menjadi tekanan mental yang sangat besar dan memerlukan penangangan awal dengan segera yang tepat dan efektif, yaitu Psychological First Aid (PFA). Ketika Kehidupan Berubah Mendadak Bencana yang datang secara mendadak dan destruktif secara signifikan meningkatkan risiko munculnya gangguan psikologis. Trauma, stres, dan kehilangan yang dialami secara tiba-tiba dapat memicu serangkaian kondisi serius, di antaranya: Acute Stress Reaction: Reaksi stres akut sesaat setelah kejadian. Anxiety Disorders: Gangguan kecemasan berlebihan dan terus-menerus. Prolonged Grief Disorder: Kesulitan berlarut dalam memproses duka dan kehilangan. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD): Gangguan stres pasca-trauma jangka panjang. Penelitian di bidang psikologi bencana menegaskan risiko ini. Norris et al. (2002) menunjukkan bahwa sekitar 30–50% penyintas bencana besar dapat mengalami gejala PTSD dalam tiga bulan pertama setelah kejadian. Bahkan, UNICEF mencatat bahwa anak-anak dan lansia merupakan kelompok yang paling rentan mengalami dampak psikologis jangka panjang, mengingat mereka memiliki kapasitas koping yang berbeda. Observasi lapangan seringkali mendapati gejala nyata di masyarakat, seperti sulit tidur, mimpi buruk, ketakutan yang irasional terhadap suara hujan atau gemuruh, penurunan minat aktivitas, menarik diri dari interaksi sosial, hingga munculnya gejala depresi. Semua ini adalah penanda bahwa intervensi psikososial terutama di fase darurat adalah kebutuhan vital, setara dengan makanan dan selimut. Mengapa Bencana Begitu Mengguncang Psikologis? Untuk memahami mengapa PFA begitu krusial, kita perlu meninjau kerangka teoretis yang menjelaskan fenomena trauma: Model Stres dan Koping (Lazarus & Folkman, 1984) Bencana merupakan stressor ekstrem yang melampaui kapasitas koping (daya tahan dan penanggulangan) normal seseorang. Ketika individu merasa tidak berdaya dan situasi dianggap tidak terkendali, maka secara alamiah muncul kecemasan, ketegangan, dan keputusasaan. Inti dari pemulihan adalah membantu individu menggeser persepsi dari “tidak berdaya” menjadi “mampu bertahan” selanjutnya “berdaya”. Teori Trauma (van der Kolk, 2014) Trauma, menurut penelitian mendalam, bukan sekadar ingatan buruk, tetapi merupakan pengalaman emosional yang terekam dalam tubuh (the body keeps the score). Dampaknya muncul dalam bentuk fisik dan emosional, seperti hipervigilansi (kewaspadaan berlebihan), ketegangan otot, dan reaksi panik terhadap pemicu yang mengingatkan pada bencana. Intervensi awal harus berfokus pada menenangkan sistem saraf yang over-aktif ini. Model Ekologi Bronfenbrenner (1979) Model ini menekankan bahwa pemulihan trauma tidak dapat dilepaskan dari konteksnya. Intervensi psikologis harus diintegrasikan dengan konteks sosial, keluarga, komunitas, bahkan kebijakan pemerintah dan sistem budaya. Oleh karena itu, dukungan psikososial harus diberikan secara berlapis dan komprehensif, mulai dari individu hingga dukungan sistemik. Catatan Penting WHO (2012): Pada fase tanggap darurat, penyintas tidak membutuhkan interogasi emosi atau terapi mendalam, melainkan kebutuhan mendasar akan rasa aman, keterhubungan, dan kendali diri. Inilah landasan utama mengapa PFA didesain sebagai intervensi non-invasif dan praktis. Psychological First Aid (PFA): Dukungan yang Menyelamatkan Jiwa Dukungan psikososial dirancang untuk menangani dua aspek sekaligus: Psikologis (stres, trauma, kecemasan) serta Sosial (relasi, lingkungan, komunitas). Di antara berbagai pendekatan, Psychological First Aid (PFA) adalah salah satu yang paling cepat, praktis, dan esensial. PFA dapat dilakukan oleh siapa saja yang terlatih: tenaga kesehatan, relawan, guru, tokoh masyarakat, bahkan responden darurat. PFA bukanlah konseling mendalam, melainkan pertolongan praktis dan suportif yang membantu menstabilkan emosi penyintas di jam-jam atau hari-hari pertama pasca-bencana. Tiga Prinsip Inti PFA: PFA berfokus pada tiga prinsip utama yang dikenal sebagai Protect, Connect, Empower: Protect (Melindungi) Ini adalah langkah pertama dan paling mendasar. Tujuannya adalah memastikan keselamatan fisik penyintas dan mengurangi paparan terhadap stres atau bahaya tambahan. PFA dilakukan dengan membantu penyintas mendapatkan kebutuhan dasar (makanan, tempat berlindung) dan menjauhkannya dari sumber pemicu trauma. Connect (Menghubungkan) Trauma seringkali menciptakan perasaan terisolasi. Prinsip ini berfokus pada membangun dukungan sosial, empati, dan keterhubungan. Ini berarti mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa memaksa, menerima reaksi emosional mereka, dan menghubungkan penyintas dengan orang yang mereka cintai atau dengan layanan dukungan esensial lainnya. Empower (Memberdayakan) Tujuan akhirnya adalah membantu penyintas mendapatkan kembali perasaan mampu dan kendali diri atas situasi mereka. PFA membantu mengidentifikasi kekuatan dan sumber daya yang dimiliki penyintas, serta memfasilitasi mereka untuk membuat keputusan sederhana dan praktis tentang langkah selanjutnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hobfoll et al. (2007), PFA terbukti memiliki dampak positif dalam menurunkan risiko trauma jangka panjang dan secara signifikan meningkatkan resiliensi komunitas secara keseluruhan. Komponen Dukungan Psiko-Sosial yang Komprehensif Mengingat kompleksitas dampak bencana, dukungan psikososial harus bersifat berlapis dan terstruktur. PFA adalah pintu masuk, yang kemudian dilanjutkan dengan dukungan yang lebih mendalam: Dukungan Individual Fokusnya adalah menstabilkan individu. Ini mencakup screening sederhana untuk mengidentifikasi tingkat stres, latihan grounding untuk manajemen emosi (membawa pikiran kembali ke masa kini), dan konseling sederhana. Bagi banyak masyarakat, dukungan spiritual juga menjadi komponen penting untuk memaknai kehilangan dan memulihkan harapan. Dukungan Keluarga Keluarga adalah unit dukungan utama. Intervensi melibatkan aktivitas keluarga (seperti storytelling atau teknik relaksasi bersama) dan edukasi orang tua mengenai respon stres anak. Tujuannya adalah memperkuat peran keluarga sebagai jangkar utama pemulihan. Dukungan Komunitas Pemulihan harus melibatkan komunitas. Dibutuhkan penyediaan safe space (ruang aman) khusus untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Kegiatan pemulihan seringkali memanfaatkan budaya lokal dan melibatkan tokoh agama/adat agar proses pemulihan terasa akrab dan didukung sistem nilai yang sudah ada. Dukungan Sistem dan Negara Pemulihan jangka panjang memerlukan komitmen pemerintah. Ini mencakup integrasi layanan mental health dalam struktur BNPB dan Pemerintah Daerah, pelatihan massal PFA untuk relawan dan guru, … Read more
