Jangan Tunggu Turnover Tinggi: Pentingnya HR bagi Perusahaan Kecil
Ketika bisnis baru memiliki lima, sepuluh, atau belasan karyawan, membentuk departemen Human Resources mungkin terasa terlalu dini. Owner masih mengenal seluruh karyawan secara langsung. Proses rekrutmen bisa dilakukan sendiri. Absensi cukup menggunakan spreadsheet. Permasalahan antar anggota tim juga masih dapat dibicarakan melalui percakapan informal. Karena itu, muncul pertanyaan yang cukup masuk akal: Apakah perusahaan kecil benar-benar membutuhkan HR? Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Perusahaan kecil belum tentu membutuhkan HR Manager, HR Generalist, recruiter, learning specialist, dan payroll specialist secara terpisah. Namun, selama perusahaan sudah mempekerjakan orang lain, beberapa fungsi HR tetap harus dijalankan. Seseorang tetap perlu memastikan proses rekrutmen berjalan dengan baik, hubungan kerja terdokumentasi, tanggung jawab karyawan jelas, performa dievaluasi, konflik ditangani, dan kebutuhan pengembangan mulai diperhatikan. Dengan kata lain, perusahaan mungkin belum membutuhkan departemen HR, tetapi sudah membutuhkan people management yang tertata. Perbedaannya penting. Sebab banyak perusahaan kecil tidak mengalami masalah karena jumlah karyawannya sedikit, melainkan karena sistem yang digunakan ketika tim masih berjumlah lima orang terus dipertahankan saat perusahaan sudah berkembang menjadi 20, 30, atau 50 orang. Mengapa HR di Perusahaan Kecil Tetap Penting? Pada perusahaan besar, fungsi HR biasanya sudah terbagi ke berbagai spesialisasi. Ada recruitment, compensation and benefit, learning and development, employee relations, talent management, hingga organization development. Perusahaan kecil tentu tidak perlu meniru struktur tersebut secara langsung. Namun, kebutuhan dasarnya sebenarnya tetap sama. Perusahaan tetap harus: CIPD menjelaskan bahwa kebutuhan people management pada usaha kecil berubah seiring pertumbuhan bisnis. Pada titik tertentu, pendekatan informal yang sebelumnya berjalan efektif dapat mencapai tipping point dan tidak lagi mampu mendukung kebutuhan perusahaan. Jika tidak diadaptasi, masalah dapat muncul dalam bentuk turnover, disengagement, maupun hambatan terhadap pertumbuhan bisnis. Artinya, pertanyaannya bukan hanya: “Apakah perusahaan kami sudah cukup besar untuk punya HR?” Pertanyaan yang lebih relevan adalah: “Apakah cara kami mengelola orang saat ini masih mampu mendukung pertumbuhan bisnis?” Tim Kecil Bukan Berarti Masalah SDM Juga Kecil Jumlah karyawan yang sedikit terkadang membuat perusahaan merasa people management dapat dilakukan secara spontan. Namun, justru karena tim kecil, satu keputusan yang salah dapat memiliki dampak yang cukup besar. Bayangkan sebuah perusahaan dengan delapan karyawan kehilangan dua orang penting hampir bersamaan. Secara angka, perusahaan kehilangan 25% timnya. Atau bayangkan perusahaan merekrut satu supervisor yang ternyata kurang mampu memimpin. Jika supervisor tersebut mengelola lima dari sepuluh karyawan perusahaan, kualitas leadership-nya dapat memengaruhi separuh organisasi. Karena itu, perusahaan kecil memiliki karakteristik berbeda dengan perusahaan besar. Kesalahan rekrutmen, konflik, ketidakjelasan peran, atau kehilangan karyawan kunci dapat terasa jauh lebih signifikan karena organisasi tidak memiliki banyak lapisan atau sumber daya cadangan. Hal ini membuat HR pada perusahaan kecil justru perlu dirancang secara sederhana tetapi tepat sasaran. 1. HR Membantu Rekrutmen Tidak Sekadar Berdasarkan Feeling Pada bisnis kecil, recruitment sering dimulai dari kebutuhan mendadak. “Marketing kewalahan, kita cari satu orang.” “Admin terlalu sibuk, cari tambahan staf.” “Sales kurang, minggu ini pasang lowongan.” Cara tersebut memang cepat. Namun, persoalannya sering muncul setelah karyawan bergabung. Ternyata tanggung jawab posisinya belum jelas. Kompetensi yang dicari tidak sesuai kebutuhan. Ekspektasi owner dengan karyawan berbeda. Bahkan terkadang perusahaan sendiri belum benar-benar memahami mengapa posisi tersebut diperlukan. Fungsi HR membantu mengubah recruitment dari sekadar “mengisi kursi kosong” menjadi proses yang lebih terstruktur. Sebelum membuka lowongan, perusahaan idealnya menjawab beberapa hal: Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu perusahaan mengurangi recruitment yang terlalu reaktif. 2. HR Membantu Menjaga Kejelasan Role dan Tanggung Jawab Salah satu ciri umum perusahaan kecil adalah semua orang terbiasa membantu semua hal. Pada tahap awal, kondisi tersebut justru dapat menjadi kekuatan. Tim menjadi fleksibel. Seorang marketing dapat membantu sales. Owner terlibat dalam operasional. Admin membantu customer service. Namun, seiring pertumbuhan bisnis, fleksibilitas tanpa batas dapat berubah menjadi ketidakjelasan. Karyawan mulai bertanya: “Ini sebenarnya tanggung jawab siapa?” “Kenapa pekerjaan saya semakin banyak tetapi jabatannya tetap sama?” “Siapa yang punya kewenangan mengambil keputusan?” “Kenapa dua orang mengerjakan hal yang sama?” Di sinilah struktur organisasi dan job description mulai penting. Psyche Humanus menjelaskan bahwa struktur organisasi bukan sebatas bagan jabatan. Struktur mengatur bagaimana pekerjaan, kewenangan, tanggung jawab, serta koordinasi dibagi agar organisasi dapat menjalankan strateginya dengan lebih jelas. Bagi perusahaan kecil, struktur tersebut tidak perlu rumit. Yang lebih penting adalah setiap orang memahami tiga hal: apa yang menjadi tanggung jawabnya, kepada siapa ia bertanggung jawab, dan keputusan apa yang dapat ia ambil. 3. Owner Tidak Harus Menjadi “HR Dadakan” Selamanya Pada tahap awal bisnis, owner biasanya menjalankan banyak peran sekaligus. Hari ini menjadi salesperson. Besok melakukan recruitment. Siangnya memeriksa cash flow. Sore hari menyelesaikan konflik antar pegawai. Model seperti ini mungkin tidak dapat dihindari ketika perusahaan masih sangat kecil. Namun, ketika bisnis tumbuh, owner dapat menjadi bottleneck jika seluruh keputusan mengenai manusia tetap bergantung kepadanya. CIPD bahkan menggunakan istilah “accidental HR manager” untuk menggambarkan kondisi yang sering terjadi pada micro dan small business: seseorang menjalankan tanggung jawab HR di samping pekerjaan utamanya meskipun tidak memiliki background atau struktur HR formal. Permasalahannya bukan karena owner tidak peduli terhadap karyawan. Justru sering kali owner sangat peduli. Namun, waktu dan perhatian mereka terbatas. Ketika jumlah karyawan bertambah, perusahaan perlu mulai mendistribusikan tanggung jawab people management kepada supervisor, manager, atau personel yang memang diberi mandat menjalankan fungsi HR. 4. HR Membantu Manager Belajar Mengelola Orang Menjadi orang paling berpengalaman di tim tidak otomatis membuat seseorang menjadi manager yang baik. Misalnya, seorang salesperson dengan performa terbaik dipromosikan menjadi Sales Supervisor. Secara teknis ia sangat kuat. Namun, sekarang pekerjaannya berubah. Ia harus: Di sinilah perusahaan kecil sering menemui masalah. Promosi dilakukan, tetapi orang tersebut tidak pernah benar-benar dipersiapkan untuk menjadi manager. Padahal, kualitas manager mempunyai pengaruh besar terhadap pengalaman kerja karyawan. Gallup menemukan bahwa manager dapat menjelaskan sekitar 70% variasi employee engagement pada level tim. Artinya, perusahaan kecil tidak cukup hanya mempunyai karyawan bagus. Perusahaan juga perlu mulai membangun kemampuan orang-orang yang memimpin mereka. HR dapat membantu melalui manager onboarding, leadership training, coaching, performance conversation, dan sistem feedback yang lebih terarah. 5. HR Membantu Perusahaan Mulai Mengelola Kinerja Pada tim kecil, owner biasanya mengetahui siapa yang rajin dan siapa yang dianggap kurang produktif. Namun, semakin besar organisasi, semakin sulit penilaian hanya mengandalkan observasi. Kalimat seperti: “Menurut saya performanya … Read more
