Pernah dengar istilah workaholic dan overworked tapi masih sering bingung membedakannya? Tidak sedikit profesional mengira kedua istilah ini sama, padahal secara psikologis dan organisasi keduanya berbeda secara mendasar.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam Perbedaan Workaholic dan Overworked — mulai dari definisi, ciri-ciri, penyebab, hingga dampak yang perlu dipahami oleh para HR, pemimpin tim, dan pekerja modern.
Definisi Dasar: Workaholic vs Overworked
Apa Itu Workaholic?
Seorang workaholic adalah individu yang bekerja secara kompulsif dan obsesif, bahkan ketika pekerjaannya sudah selesai atau berada di luar jam kerja normal. Mereka tidak hanya bekerja keras, tetapi secara emosional dan mental terus terikat dengan pekerjaan. Workaholic sering merasa cemas atau gelisah saat tidak bekerja, bahkan bisa sampai tidak bisa menikmati waktu luang.
Apa Itu Overworked?
Sementara itu, overworked menggambarkan keadaan seseorang yang dipaksa atau terdorong bekerja secara berlebihan karena tuntutan pekerjaan, bukan karena dorongan internal seperti workaholic. Kondisi ini sering terjadi ketika beban kerja terlalu banyak, target tinggi, atau kekurangan staf sehingga pekerjaan menumpuk.
Dengan demikian, perbedaan utama terletak pada apa yang mendorong perilaku bekerja — workaholic karena dorongan internal (candu kerja), sedangkan overworked karena tuntutan eksternal (beban kerja yang berlebihan).
Perbedaan Workaholic dan Overworked dalam Praktek
Agar lebih jelas, berikut beberapa perbedaan utama yang sering ditemukan di dunia kerja:
1. Motivasi & Dorongan
- Workaholic: Ingin terus bekerja karena tekanan batin; merasa harus selalu sibuk.
- Overworked: Terlalu banyak bekerja karena tuntutan pekerjaan dari luar seperti bos, deadline, atau kurangnya tim.
2. Kendali atas Jam Kerja
- Workaholic: Pilihannya sendiri untuk bekerja lebih; bahkan di waktu istirahat pun tetap memikirkan kerja.
- Overworked: Tidak punya kendali penuh atas jam kerja karena tuntutan eksternal, sering lembur karena workload tinggi.
3. Dampak Emosional
- Workaholic: Bisa merasa bersalah atau cemas jika tidak bekerja.
- Overworked: Merasa tertekan, kelelahan, bahkan burnout karena beban yang tak henti.
4. Hubungan dengan Kesehatan & Kehidupan
- Workaholic: Mungkin memilih mengabaikan hubungan sosial demi pekerjaan.
- Overworked: Risiko kesehatan fisik dan mental tinggi karena kurang waktu istirahat cukup.
Contoh Kasus di Dunia Kerja
Bayangkan dua orang profesional di perusahaan yang sama:
- Aldi tetap mengecek email hingga malam hari karena ingin terus sibuk, meskipun tugas utamanya sudah selesai. Pikiran Aldi sulit berhenti memikirkan pekerjaan, bahkan saat akhir pekan. Ini lebih dekat dengan workaholic.
- Bella mendapatkan target besar dari atasan, ditambah proyek tambahan, sehingga Bella harus lembur berkali-kali hanya untuk mengejar deadline. Dia sebenarnya ingin istirahat, namun tuntutan pekerjaan membuatnya terus bekerja. Ini contoh overworked.
Melalui contoh di atas, kita bisa melihat bagaimana Perbedaan Workaholic dan Overworked muncul berdasarkan dorongan internal vs eksternal.
Dampak Kedua Kondisi
Dampak Workaholic
- Mengurangi kualitas hubungan sosial.
- Risiko insomnia karena terus bekerja dan memikirkan kerja.
- Bisa tetap sehat secara mental saat bekerja, namun berisiko jangka panjang jika tidak ada batas.
Dampak Overworked
- Kelelahan fisik dan mental yang ekstrem.
- Burnout atau stres kronis karena tidak ada jeda istirahat.
- Penurunan produktivitas akibat kelelahan.
Perbedaan Workaholic dan Overworked dalam Kebijakan HR
Bagi HR dan pemimpin, memahami perbedaan ini sangat penting karena membantu:
- Menyusun program keseimbangan kerja-hidup yang tepat.
- Mencegah risiko burnout dengan memperbaiki beban kerja tim.
- Mendidik manajer untuk mengenali tanda-tanda kerja berlebihan.
- Memberi dukungan mental dan sumber daya yang sesuai.
Tanpa pembedaan yang benar, satu strategi bisa tidak efektif diterapkan untuk keduanya karena penyebabnya berbeda.
Tips Mengatasi Workaholic dan Overworked
Untuk Workaholic
- Tentukan batas jam kerja yang jelas.
- Melatih diri untuk switch off saat bukan jam kerja.
- Kenali tanda kecemasan saat tidak bekerja.
Untuk Overworked
- Evaluasi beban kerja tim secara berkala.
- Buat prioritas tugas yang realistis.
- Dukungan dari manajemen untuk menetapkan target yang wajar.
Kesimpulan
Jadi, Perbedaan Workaholic dan Overworked tidak hanya sekadar bekerja banyak atau sedikit. Intinya adalah:
- Workaholic adalah kondisi internal, seseorang yang memilih bekerja secara obsesif dan terus memikirkan pekerjaan.
- Overworked adalah kondisi eksternal, seseorang yang dipaksa bekerja berlebihan karena tuntutan pekerjaan.
Keduanya dapat berdampak negatif jika tidak ditangani dengan strategi yang tepat, baik dari sisi individu maupun organisasi.
Penutup
Memahami Perbedaan Workaholic dan Overworked adalah langkah awal menuju kesejahteraan kerja yang lebih baik. Ketika HR, pemimpin, dan profesional mengerti akar penyebab masing-masing kondisi ini, mereka dapat merancang solusi yang efektif untuk menjaga produktivitas tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kualitas hidup.