
Pernahkah kamu merasa kerja tak ada habisnya. bahkan saat tidur pun pikiran tentang pekerjaan terus mendominasi? Kalau iya, bisa jadi kamu atau orang di sekitarmu menunjukan fenomena yang disebut workaholic — bukan sekadar “kerja keras”, tetapi dorongan obsesif yang mengubah hubungan kita dengan pekerjaan dan kehidupan.
Secara sederhana, workaholic adalah seseorang yang memiliki dorongan berlebihan untuk bekerja secara kompulsif, bahkan ketika tidak ada kebutuhan nyata untuk itu. Mereka sering mengalami kesulitan memisahkan diri dari pekerjaan, sehingga pekerjaan menjadi prioritas utama melebihi kehidupan pribadi dan istirahat.
Definisi ini bukan hanya sekadar orang yang rajin kerja. Workaholic seringkali menunjukkan perilaku yang hampir menyerupai kecanduan kerja (work addiction), di mana pekerjaan menjadi semacam kebutuhan yang tidak bisa dikontrol, sedangkan aspek hidup lain terabaikan.
Banyak orang menggunakan istilah “pekerja keras” secara bergantian dengan “workaholic”. Namun, perbedaannya cukup penting:
Dengan kata lain, tidak semua pekerja keras adalah workaholic, tetapi semua workaholic hampir dipastikan bekerja di luar batas sehat.
Beberapa faktor yang umum berkontribusi membuat seseorang menjadi workaholic antara lain:
Ketika pekerjaan jadi sumber identitas dan validasi sosial, garis antara kerja dan kehidupan pribadi bisa cepat tergerus.
Berikut beberapa tanda umum seseorang telah berada di zona workaholic yang perlu diwaspadai:
Meskipun kadang dipuji sebagai dedikasi, workaholic dapat membawa berbagai dampak serius, misalnya:
Ironisnya, bekerja tanpa henti justru bisa menurunkan efektivitas, karena kualitas kerja jadi turun akibat kelelahan emosional dan fisik.
Bagi pegiat bisnis, HR, dan kepemimpinan, memahami Apa itu Workaholic penting karena:
Workaholic bukan sekadar “kerja keras”. Di lingkungan profesional, perilaku ini bisa jadi indikator risiko kesehatan organisasi jika tidak dikelola.
Jika kamu atau organisasi mulai menyadari tanda-tanda workaholic, beberapa strategi berikut bisa membantu:
Dengan struktur yang tepat, workaholic bisa dialihkan menjadi kebiasaan kerja yang produktif tanpa mengorbankan kesejahteraan.
Apa itu Workaholic? Ini bukan sekadar bekerja keras atau jam kerja panjang — tetapi sebuah pola perilaku di mana pekerjaan menjadi kebutuhan obsesif yang mengorbankan kehidupan personal, kesehatan, dan hubungan sosial. Dengan memahami tanda-tanda dan dampaknya, kita dapat menciptakan keseimbangan kerja yang sehat tanpa kehilangan produktivitas.
