psychehumanus.id

Apa Itu Workaholic? Kenali Gejala, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Pernahkah kamu merasa kerja tak ada habisnya. bahkan saat tidur pun pikiran tentang pekerjaan terus mendominasi? Kalau iya, bisa jadi kamu atau orang di sekitarmu menunjukan fenomena yang disebut workaholic — bukan sekadar “kerja keras”, tetapi dorongan obsesif yang mengubah hubungan kita dengan pekerjaan dan kehidupan. 

Apa Itu Workaholic?

Secara sederhana, workaholic adalah seseorang yang memiliki dorongan berlebihan untuk bekerja secara kompulsif, bahkan ketika tidak ada kebutuhan nyata untuk itu. Mereka sering mengalami kesulitan memisahkan diri dari pekerjaan, sehingga pekerjaan menjadi prioritas utama melebihi kehidupan pribadi dan istirahat.

Definisi ini bukan hanya sekadar orang yang rajin kerja. Workaholic seringkali menunjukkan perilaku yang hampir menyerupai kecanduan kerja (work addiction), di mana pekerjaan menjadi semacam kebutuhan yang tidak bisa dikontrol, sedangkan aspek hidup lain terabaikan.

Workaholic vs Pekerja Keras: Apa Bedanya?

Banyak orang menggunakan istilah “pekerja keras” secara bergantian dengan “workaholic”. Namun, perbedaannya cukup penting: 

  • Pekerja keras dapat mengatur waktu kerja dan tetap mempertahankan kehidupan pribadi.
  • Workaholic cenderung sulit berhenti bekerja, bahkan saat harus istirahat atau bersama keluarga.

Dengan kata lain, tidak semua pekerja keras adalah workaholic, tetapi semua workaholic hampir dipastikan bekerja di luar batas sehat.

Penyebab Seseorang Menjadi Workaholic

Beberapa faktor yang umum berkontribusi membuat seseorang menjadi workaholic antara lain: 

  1. Perfeksionisme tinggi — dorongan untuk selalu memberikan yang “sempurna”
  2. Standar sukses yang ekstrim — mengaitkan harga diri dengan pencapaian kerja
  3. Lingkungan kerja bertekanan tinggi — budaya kerja yang “lebih baik kalau ekstra jam kerja”
  4. Menghindari ketidaknyamanan personal — kerja jadi pelarian dari stres atau kecemasan

Ketika pekerjaan jadi sumber identitas dan validasi sosial, garis antara kerja dan kehidupan pribadi bisa cepat tergerus. 

7 Tanda Kamu Mungkin Workaholic

Berikut beberapa tanda umum seseorang telah berada di zona workaholic yang perlu diwaspadai: 

  1. Selalu memikirkan pekerjaan, bahkan saat sedang tidak bekerja
  2. Merasa bersalah saat beristirahat atau tidak bekerja
  3. Kesulitan memutuskan hubungan dengan pekerjaan saat libur
  4. Mengabaikan kesejahteraan fisik & mental karena fokus pada pekerjaan
  5. Hubungan pribadi terganggu karena waktu dan fokus yang terus ke pekerjaan
  6. Sulit berkata “tidak” pada pekerjaan atau permintaan ekstra jam
  7. Kerja digunakan untuk menghindari masalah pribadi 

Dampak Negatif Workaholic

Meskipun kadang dipuji sebagai dedikasi, workaholic dapat membawa berbagai dampak serius, misalnya:

Kesehatan Fisik & Mental

  • Peningkatan stress kronis, kecemasan, dan depresi
  • Gangguan tidur dan penyakit jantung
  • Burnout (kelelahan total) karena tidak pernah berhenti bekerja

Sosial & Hubungan

  • Relasi keluarga menurun karena kurangnya waktu
  • Ketidakmampuan untuk membangun koneksi sosial yang sehat.

Produktivitas dan Kreativitas Terganggu

Ironisnya, bekerja tanpa henti justru bisa menurunkan efektivitas, karena kualitas kerja jadi turun akibat kelelahan emosional dan fisik. 

Workaholic di Lingkungan Bisnis, HR & Kepemimpinan

Bagi pegiat bisnis, HR, dan kepemimpinan, memahami Apa itu Workaholic penting karena:

  • Talent management: menilai apakah produktivitas karyawan sehat atau berlebihan
  • Kesejahteraan pekerja: mencegah burnout dan mempertahankan kinerja jangka panjang
  • Budaya organisasi: menciptakan lingkungan kerja yang seimbang dan human-centric

Workaholic bukan sekadar “kerja keras”. Di lingkungan profesional, perilaku ini bisa jadi indikator risiko kesehatan organisasi jika tidak dikelola.

Tips Mengatasi dan Mencegah Workaholic

Jika kamu atau organisasi mulai menyadari tanda-tanda workaholic, beberapa strategi berikut bisa membantu:

  • Tetapkan batas waktu kerja yang jelas
  • Dorong budaya istirahat dan cuti yang sehat
  • Evaluasi beban kerja secara periodik
  • Melatih keterampilan delegasi
  • Sediakan dukungan psikologis bagi karyawan

Dengan struktur yang tepat, workaholic bisa dialihkan menjadi kebiasaan kerja yang produktif tanpa mengorbankan kesejahteraan. 

Kesimpulan

Apa itu Workaholic? Ini bukan sekadar bekerja keras atau jam kerja panjang — tetapi sebuah pola perilaku di mana pekerjaan menjadi kebutuhan obsesif yang mengorbankan kehidupan personal, kesehatan, dan hubungan sosial. Dengan memahami tanda-tanda dan dampaknya, kita dapat menciptakan keseimbangan kerja yang sehat tanpa kehilangan produktivitas.

Bagikan

Recent Article