
“Pernahkah Anda merasa seolah pekerjaan bukan sekadar tugas, tapi sudah mengambil alih hidup Anda?” Kalimat ini mungkin sudah sangat akrab bagi banyak profesional modern. Di era kerja cepat, target tinggi, dan ekspektasi tanpa henti — istilah overworked menjadi semakin relevan dalam dunia bisnis, HR, dan pengembangan kepemimpinan. Namun, sebelum kita melangkah lebih jauh… apa sebenarnya Apa itu Overworked?
Secara sederhana, overworked adalah kondisi di mana seseorang bekerja melebihi batas kemampuan fisik, mental, dan emosionalnya sehingga menyebabkan gangguan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Ini bukan sekadar bekerja lembur beberapa malam, tetapi pola kerja berkepanjangan yang membuat pekerjaan “menguasai” hidup seseorang — tanpa ruang istirahat yang sehat dan waktu untuk pulih.
Sering kali workaholic dan overworked dipakai bergantian. Namun, keduanya berbeda:
Berikut beberapa tanda paling umum seseorang mengalami kondisi overworked:
Walaupun terlihat sibuk dan bekerja lama, kualitas output justru menurun karena kelelahan kronis.
Rasa gelisah bahkan sebelum kerja dimulai bisa menandakan kerja berlebihan.
Selalu ‘online’, sulit untuk berhenti berpikir tentang pekerjaan bahkan di luar jam kerja.
Mulai dari sulit tidur, kelelahan terus-menerus hingga risiko burnout dan stres berat.
Fokus sepenuhnya pada pekerjaan sering mengorbankan hubungan keluarga atau teman.
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang masuk fase overworked, antara lain:
Jika HR atau pemimpin tim tidak memahami akar permasalahan ini, dampaknya bisa lebih luas lagi — dari menurunnya retensi karyawan hingga turunnya produktivitas tim.
Dampak overworked bukan sekadar penurunan semangat kerja. Ini juga mencakup:
Orang yang terus-menerus bekerja melebihi batasnya berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan, termasuk stres ringan hingga masalah serius seperti gangguan jantung, stroke, bahkan gangguan tidur yang berkelanjutan.
Kelelahan mental yang berkepanjangan berpotensi menyebabkan burnout, penurunan motivasi, sering absen, dan bahkan keluar dari pekerjaan.
Beda dengan asumsi umum, bekerja terlalu banyak justru seringkali mengurangi efektivitas, inovasi, dan produktivitas tim — karena individu tidak punya ruang untuk menyusun strategi dengan jernih.
Bagi praktisi HR dan pemimpin tim, memahami Apa itu Overworked berarti:
Seperti yang terjadi di banyak perusahaan, pekerja yang terus-menerus overworked cenderung mengalami penurunan loyalitas dan performa. Hal ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada pertumbuhan bisnis secara keseluruhan.
Sistem shift, jadwal istirahat, dan waktu bebas sangat penting untuk memulihkan energi.
Dukung komunikasi terbuka, bantu manajer memahami tanda-tanda stres kerja.
Pastikan tugas didistribusikan secara adil dan sesuai dengan kapabilitas karyawan.
Program kesehatan mental, konseling, dan keseimbangan kehidupan kerja dapat membantu karyawan lebih produktif tanpa kelebihan beban.
Apa itu Overworked? bukan sekadar istilah, tetapi realitas yang harus dipahami oleh pekerja, pemimpin, dan HR. Kondisi ini bisa merusak bukan hanya kesehatan individu, tetapi juga produktivitas dan budaya kerja organisasi.
Dengan memahami, mengenali, dan menanggulangi tanda-tandanya lebih awal, kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang produktif tanpa memecah keseimbangan kehidupan pribadi.
